Selasa, 10 Januari 2017

Kisah Nabi Musa Dan Khidir (Renungan)

Kisah Nabi Musa Dan Khidir (Renungan)






Dalam Shahih Bukhari, dikisahkan "Suatu ketika Nabi Musa AS, berseru di hadapan kaumnya, tiba-tiba ada orang bertanya, "Adakah orang yang lebih berilmu darimu?" Musa menjawab: "Tidak ada". Maka Allah SWT menegurnya dan menegaskan, bahwa ada orang yang lebih berilmu darinya. Kemudian Allah SWT memberi petunjuk keberadaan orang itu di antara pertemuan dua laut.



Mulailah Musa menuju tempat tersebut. Dan sesampainya di sebuah batu besar, Musa dan pembantunya tertidur, sedangkan ikan yang mereka bawa melompat ke laut. Si pembantu lupa memberi tahu hal itu kepada Musa. Setelah terbangun, mereka melanjutkan perjalanan.

Sampai di suatu tempat, Musa meminta pembantunya untuk mengeluarkan ikan dan makanan. "Wahai Musa, saat kita berada di batu besar, aku lupa dan setan membuatku lalai untuk memberitahumu, ikan itu hanyut dengan unik."

Lalu mereka kembali dan menelusuri jejak, hingga sampai di batu besar tadi. Tiba-tiba terlihat sosok laki-laki. Musa memberinya salam dan memperkenalkan diri. "Aku mencarimu untuk belajar kepadamu."

Khidir berkata, "Musa, engkau tidak akan mampu bersabar mengikutiku." Musa berkata, "Insya Allah aku mampu bersabar dan tidak akan membantahmu". Khidir berkata, "Jika benar ingin bersamaku, jangan banyak bertanya sampai aku sendiri memberitahumu."

Keduanya pun pergi menyusuri pantai. Disana mereka melihat sebuah kapal lalu ikut di dalamnya. Hingga mendekati tempat tujuan, Khidir membuat lubang di kapal itu. Musa menegurnya. "Mereka ini mengangkut kita tanpa upah, mengapa engkau melubangi kapal ini dan membahayakan kita semua? Khidir menjawab, "Aku telah katakan, engkau tidak mampu sabar bersamaku."

Musa menyesali dan Khidir memaafkannya. Lalu keduanya berjalan di tepi laut dan melihat anak kecil sedang bermain, tiba-tiba Khidir membekuknya hingga akhirnya meninggal dunia. Musa gusar. "Mengapa engkau bunuh jiwa tak berdosa?" Khidir berkata, "Aku telah katakan, bahwa engkau tidak mampu bersabar denganku." Musa meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dan tiba di suatu tempat dalam kondisi lapar. Namun, tak ada yang memberi mereka makan. Setelah itu, keduanya menyaksikan sebuah rumah yang hampir roboh. Khidir segera memperbaikinya. Musa berkata, "Mintalah upah dari mereka atas upayamu." Nabi Khidir berkata, "Ini adalah saat berpisah antara aku dan engkau karena engkau tak sabar."

Kisah itu mengingatkan, bahwa lupa adalah sifat termaafkan. Tetapi, jika berulang-ulang dilakukan, maka akan berbuah pahit. Psikolog Muslim Timur Tengah, Utsman An-Najati, menjelaskan sedikitnya ada faktor penyebab lupa, yakni benar-benar lupa, kurang peduli masalah, banyak masalah, dan kurang kesabaran.

Lupa dalam kisah di atas karena kurang sabar. Akibatnya, kebersamaan Musa dan Khidir pun berakhir di situ. Bahkan Rasulullah SAW (dalam riwayat Ubay Bin Ka'ab) memberi komentarnya, "Semoga Allah merahmati Musa AS. Sebenarnya aku lebih senang jika Nabi Musa mau sedikit bersabar, sehingga Allah SWT mengabarkan kisah ini lebih panjang lagi."


"Sesungguhnya Allah SWT mencintai hamba-hamba yang sabar. (QS. Ali Imran (3) : 146).

(",)v




Sumber : republika.co.id
Oleh : M. Saifudin

Read more: http://siradel.blogspot.com/2014/09/kisah-nabi-musa-dan-khidir-renungan.html#ixzz4VMzhdc4j

Seni Menikmati Air Mata (Renungan)

Seni Menikmati Air Mata (Renungan)



Sayap-Sayap Kehidupan siradel.blogspot.com

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. ” (QS. Ali imran: 185)

Pergantian siang dan malam, bahagia dan duka, juga antara hidup dan mati, Allah pergilirkan sesuai dengan apa yang telah Dia gariskan untuk segenap hamba-hambaNya. Bukan tanpa maksud Allah mempergilirkan segala yang terjadi di langit maupun bumi.

Tujuan dari pergiliran itu adalah agar manusia ‘belajar’ dalam hidupnya. Belajar bahwa untuk mendapatkan kesempurnaan pahala, membutuhkan usaha selama di dunia. Usaha itu salah satunya adalah menanam amal baik kepada Allah dan sesama. Dalam ‘usaha’ pendekatan diri pada Allah itulah bahagia dan duka menemani kita.

Air mata sebagai simbol keikhlasan maupun ketidakrelaan atas ketetapan Tuhan Goresan tinta takdirNya seakan sulit diterima makhluk-Nya. Kendati memang, apapun yang digariskan adalah demi kebaikan hamba-hambaNya.

Airmata adalah anugerah yang Allah berikan sebagai bukti bahwa adakalanya manusia ditimpa cobaan hingga mereka tak sanggup lagi memikulnya, maka Tuhan menjadi sandaranNya agar ia menjadi kuat. Pun saat makhluk tak lagi menjadi ‘sahabat’ untuk semua beban hidup kita, ada Sang Maha Segalanya yang mau meringankan beban hidup, tanpa pandang seberapa berat beban itu. Dalam hal ini, Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak bacaan hauqalah (Laa haula walaa quwwata illa billah) sebagai bukti bahwa kita tak memiliki daya apapun atasNya.

Al Qur'an sebagai sebaik-baiknya pedoman hidup juga berbicara perihal airmata (tangisan). Dua di antaranya ialah tangisan Ahli Kitab saat mereka mengetahui kebenaran Nabi Muhammad SAW. Salah satu di antara mereka ialah paman Sayyidatina, Siti Khadijah Waraqah bin Naufal.

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad SAW)”. (QS. al-Maaidah: 83)

Airmata jenis ini dirasakan oleh Ahli Kitab yang hatinya tersentuh oleh sebuah hidayah. Mereka merasa mendapatkan kebenaran atas Al Qur'an yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Inilah jenis airmata simbol keharuan yang meninggalkan ketenangan yang luar biasa dahsyat dari Allah SWT.

Airmata kedua ialah airmata Nabiyallah Ya’kub AS sebab menahan kerinduan pada anaknya, Yusuf AS.

“Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa".
Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya." (QS. Yusuf: 84-86)
           
Pada tingkat airmata ini, Ya’qub AS sudah memiliki kepasrahan total pada Allah, sehingga ia sudah bersahabat dengan airmata dan duka. Kehilangan buah hati yang amat dicintanya disusul kehilangan Bunyamin, putra keduanya, membuat Ya’qub bertambah sedih. Namun, ia nikmati semua itu sebagai buah pengabdian dirinya pada Tuhan.

Wallahu a’lam
(",)v




Sumber : republika.co.id
Oleh : Ina Salma Febriany

Read more: http://siradel.blogspot.com/2015/01/seni-menikmati-air-mata-renungan.html#ixzz4VMzAuEAi

Empat Karakter Manusia Dalam Al Qur'an (Renungan)

Empat Karakter Manusia Dalam Al Qur'an (Renungan)




Allah telah menggambarkan proses penciptaan manusia secara rinci dalam QS. Al-Mukminun ayat 12-14, yang dijelaskan pula dalam ilmu sains.

Dalam sains, manusia adalah makhluk yang tubuhnya terdiri dari sel—yakni bagian terkecil dari makhluk hidup. Jaringan sekumpulan sel-sel yang serupa bentuk, besar dan pekerjaannya yang terikat menjadi satu disebut organ.

Tubuh manusia pun terdiri dari sistem, yakni sistem otot (muskularis), sistem syaraf (neruosa), sistem kelenjar (endokrin), sistem pencernaan (digestivus), sistem metabolisme, sistem cairan tubuh dan darah, sistem jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), sistem pernafasan (respiratorius), sistem perkemihan (urinarius), sistem reproduksi, sistem kulit (integument) dan sistem pengindraan.

Tiap-tiap jenis sel secara khusus beradaptasi untuk melakukan fungsi tertentu. Misalnya, sel darah merah berjumlah 25 triliun mentransfer oksigen dari paru-paru ke jaringan. Terdapat 50 triliun sel yang lain dan jumlah sel dalam tubuh diperkirakan 75 triliun. Umur kehidupan sel berbeda-beda misalnya leukosit granular yang dapat hidup selama manusia hidup. Sedangkan eritrosit hanya mampu hidup sampai 14 hari.

Disamping kedahsyatan penciptaan manusia dan struktur yang ada dalam tubuhnya, manusia juga “dianugerahi” beberapa karakter buruk yang jika tidak diobati, maka akan merugikan manusia itu sendiri.

Beberapa karakter buruk manusia yang disebut dalam Al Qur'an adalah : Pertama, mengeluh dan kikir. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." (QS. Al-Ma’arij: 19). Disadari maupun tidak, mengeluh adalah sifat dasar manusia yang timbul saat ia tertimpa masalah atau dalam kesempitan.

Sedangkan kikir yang dalam bahasa Arab disebut bakhil, secara detail Allah uraikan dalam QS. Al-Israa’: 100. “... Dan adalah manusia itu sangat kikir.”

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW menganjurkan agar kita selalu berdoa, “Allahumma inni a’udzubika minal bukhli (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir).”

Kedua, lemah. Dalam Al Qur'an, Allah mendeskripsikan dua kelemahan manusia, yaitu lemah secara fisik dan lemah (dalam melawan) hawa nafsu buruk. “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah...” (QS. Ar-Rum: 54).

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa’: 28). Menurut Syekh Nawawi Al-Bantany, tafsir “lemah” dalam Surah An-Nisaa’ itu adalah lemah dalam melawan hawa nafsu.

Ketiga, zalim dan bodoh. “... sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72). Kezaliman dan kebodohan manusia dalam ayat di atas disebabkan karena rusak dan kotornya bumi, karena pertumpahan darah dan ulah manusia itu sendiri yang tidak merawat bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan Allah.

Keempat, tidak adil. Berlaku adil adalah tindakan yang terkadang kurang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum Madyan yang tidak berlaku adil, akhirnya di adzab oleh Allah, seperti dalam firman-Nya, “Dan Syu'aib berkata, ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Hud: 85).

Betapa pun sulitnya menghindari tabiat yang sudah Allah lekatkan dalam diri manusia, dengan bertobat dan terus berdoa kepada-Nya, niscaya Allah meminimalkan karakter buruk tersebut dari dalam diri kita. Serta memenuhi hati kita dengan cahaya iman dan hidayah untuk semangat dalam beribadah. Amin.

(",)v




Sumber : republika.co.id
Oleh : Ina Salma Febriani
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Read more: http://siradel.blogspot.com/2012/08/empat-karakter-manusia-dalam-al-quran.html#ixzz4VMyiTz1d

Manusia Yang Tak Disukai Allah (Renungan)

Manusia Yang Tak Disukai Allah (Renungan)





Dalam Al Qur'an ditemukan beberapa ayat dengan variasi beragam yang diawali dengan “in nallaha laa yuhibbu” (sesungguhnya Allah tak suka).

Dengan tegas Allah SWT menyatakan ketidaksukaan kepada karakter-karekter negatif dan destruktif. Seperti al-mufsidin (merusak, QS. [5]: 64), azh-zhalimin (zalim, QS. [3]: 140), al-musrifin (berlebihan, QS. [6]:141), al-mu’tadin (melampaui batas, QS. [2:190]), al-mustakbirin (menyombongkan diri, QS. [16]:23), kaffarin atsiim (kufur lagi bergelimang dosa, QS. [2]: 276), khawwanin atsima (berkhianat dan berlumur dosa, QS. [4]: 107), khainin (penghianat, QS. [8]: 58), dan mukhtalan fakhura (sombong dan membanggakan diri, QS. [4]: 36, [31]: 18, [57]: 23).

Dalam Tafsir Al-Azhar, Prof. Dr. Buya Hamka menjelaskan makna kata mukhtalan fakhura. Mukhtal artinya melagak, menyombong, merasa seakan-akan dunia ini dia yang punya. Bumi serasa dilangkahi, langit serasa dipersunting, awak merasa tinggi benar, hina dan mulia tak dikenal, tua dan muda tak disapa. Itulah sombong sikap hidup.

Sementara fakhur adalah cakap yang sombong, perkataan yang selalu meninggi, memandang rendah orang lain, seakan-akan diri tak ada tandingan. Bercakap tinggi, membanggakan diri, menyebut bahwa dia paling pintar atau gagah berani atau si anu pernah dibantunya dan membanggakan keturunan, nenek moyang, kabilah, dan suku.

Dalam Surah An-Nisa’ ayat 36-38 disebutkan empat karakter buruk dari mukhtalan fakhura. Pertama, orang-orang yang kikir dan menyuruh orang berbuat kikir. Bakhil adalah kesombongan, baik kepada Allah SWT yang telah memberi karunia maupun kepada manusia (QS. [57]: 24).

Sifat ini adalah kemusyrikan stadium awal, karena menyekutukan Allah dengan harta benda. Kebakhilan muncul dalam diri manusia, karena terlalu mencintai harta melebihi cintanya kepada Tuhan. (QS. [100]: 6-8) dan menumpuk harta (QS. [102]: 1). Kedua, menyembunyikan karunia Allah.

Seseorang yang bakhil akan menutupi kenikmatan yang diperolehnya dan tidak ingin diketahui orang lain. Orang-orang yang terserang penyakit berbahaya ini, hidupnya akan menderita, hingga akhir hayat. Sebab, setiap karunia yang diterimanya tak pernah disyukuri dan dibagikan untuk orang lain (QS. [93]: 11). Orang bakhil itu termasuk kufur nikmat (QS. [4]: 37).

Ketiga, orang-orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji). Riya juga merupakan kemusyrikan, yakni menyekutukan Allah dengan manusia. Ia mengeluarkan zakat, infak, sedekah dan wakaf, serta shalat dan puasa karena ingin dipuji dan dikatakan dermawan. (QS. [2]: 264).

Keempat, orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Ketiga golongan tersebut di atas, akan tampak dari sikap dan perbuatannya. Meskipun menjalankan syariat Islam, mereka tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Sekiranya beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu mereka tidak bakhil atau riya.

Dalam keseharian, mereka yang mengidap keempat penyakit hati ini akan membanggakan diri dan pongah (QS. [31]: 18). Hal tersebut disebabkan mereka berteman dengan setan (QS. [4]: 38). Manusia tak suka dan Allah pun tak suka. Wallahu a’lam.

(",)v




Sumber : republika.co.id
Oleh : Ustadz Hasan Basri Tanjung
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Read more: http://siradel.blogspot.com/2012/11/manusia-yang-tak-disukai-allah-renungan.html#ixzz4VMyU5MGa

Manusia Yang Akan Mendapat Laknat Allah SWT (Renungan)

Manusia Yang Akan Mendapat Laknat Allah SWT (Renungan)






Tujuan diutusnya para rasul ke dunia adalah agar umat manusia mengetahui hakikat kehidupan dunia dan mampu menghindari keburukan-keburukan yang ditimbulkan oleh ketidakmengertian dan hawa nafsu.

Akibat kebodohan dan hawa nafsu, manusia akan mendapatkan kehinaan, siksa, dan malapetaka. Padahal, sesungguhnya manusia diciptakan di dunia adalah untuk beribadah dan menjadi khalifah, panutan, dan pemimpin yang baik di muka bumi ini.

Maka, sangat merugi golongan orang-orang yang kafir dan ingkar terhadap Allah. Di antara golongan yang merugi itu adalah orang-orang yang membunuh saudara sebagian mereka, mengusir golongan dari mereka dari kampung halaman mereka, saling bantu-membantu dengan berbuat dosa dan permusuhan, mereka pun beriman kepada sebagian al-kitab (Taurat) dan kufur terhadap sebagian yang lain (QS. Al-Baqarah: 85).

Golongan lain adalah orang-orang yang murtad dari agamanya, memusuhi Islam semasa hidupnya dan mati dalam keadaan kafir (QS. Al-Baqarah: 217), orang yang menghalangi menyebut nama Allah SWT dalam masjid dan berusaha merobohkannya (QS. Al-Baqarah: 114), orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah SWT, yang membunuh para nabi tanpa hak (QS. Ali Imron: 22 dan 56), membuat kerusakan di bumi (QS. Al-Maidah: 33), orang-orang Yahudi yang pendusta (QS. Al-Maidah: 41), serta orang-orang malas mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat (QS. At-Taubah: 54-55).

Selain itu, golongan lain yang akan mendapatkan laknat dunia adalah orang-orang munafik dan kafir yang menggunakan kekuasaannya secara bathil (QS. At-Taubah: 69), orang-orang munafik (QS. At-Taubah: 74), tidak mau berjihad di jalan Allah (QS. At-Taubah: 8-85), serta penduduk suatu negeri yang tidak beriman kepada nabi mereka dan mereka tidak mendapatkan keimanan apabila mereka beriman, seperti kaum Yunus (QS. Yunus: 98).

Begitu pula golongan orang yang suka membantah tentang Allah SWT tanpa ilmu pengetahuan dan yang menyembah Allah SWT dengan tidak penuh keyakinan. Mereka juga seperti golongan orang-orang yang suka berita-berita kekejian dan menyebarluaskan di kalangan orang-orang beriman (QS. An-Nur: 19), orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik melakukan perzinaan (QS. an-Nur: 23), orang-orang yang menyakiti Allah SWT dan rasul-Nya (QS. Al-Ahzab: 57), orang-orang dzalim yang mendustai para rasul sepanjang masa (QS. Az-Zumar: 25-26), kaum Ad yang sombong di muka bumi dengan mengatakan, “Siapa yang paling kuat daripada kami?” mereka juga kufur terhadap ayat-ayat Allah SWT (QS. Fushilat: 15), dan orang-orang Yahudi Bani Nadzir yang diusir oleh Rasulullah dan orang-orang Islam dari kota Madinah Al-Munawaroh karena pengkhianatan dan permusuhan mereka (QS. Al-Hasyr: 2-3).

Merekalah golongan-golongan yang terancam dengan laknat dunia dan akhirat akibat kelalaian dan kekafiran mereka. Rasulullah sesungguhnya telah mengajarkan dan menuntun kepada syariat yang benar. Telah ada pada diri Rasulullah uswatun hasanah (teladan yang baik). Maka, sudah sepatutnya kita menjalankan syariat Allah SWT dan hendaknya jangan melakukan perbuatan kafir dan khianat seperti golongan orang-orang yang merugi tersebut.
(",)v




Sumber : republika.co.id
Oleh : KH. Muhammad Dawam Saleh

Read more: http://siradel.blogspot.com/2014/01/manusia-yang-akan-mendapat-laknat-allah.html#ixzz4VMyDzSqv

9 Manusia Yang Mendapat Pertolongan Allah SWT

9 Manusia Yang Mendapat Pertolongan Allah SWT (Renungan)



Sayap-Sayap Kehidupan

“Katakanlah siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan kebaikan-kebaikan rezeki, katakanlah bahwa itu adalah milik orang-orang yang beriman di dunia dan khusus bagi mereka di hari kiamat. Demikianlah kami perinci ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui” (QS. al-A’raf: 32).

Sebagian orang yang disebut sufi biasanya menghindar dari kemewahan dunia, bahkan ada yang berlebih-lebihan. Mereka dari orang-orang Yahudi, Nasrani, Hindu, dan juga Islam. Orang-orang Islam, terutama yang terpengaruh oleh buku-buku tasawuf seperti kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali dalam bab Dzammuddunya, bisa bersikap lebih ekstrem zuhud dalam menghadapi kehidupan dunia.

Padahal dalam Al Qur'an disebutkan, bahwa kita bisa memperoleh kebaikan, kekuasaan, harta melimpah, kejayaan, kekayaan di dunia sebagaimana sebagian para nabi yang juga mendapatkan itu semua.

Siapa orang-orang yang memperoleh kebaikan, kemenangan, kejayaan dan pertolongan Allah SWT dalam kehidupan dunia?

Pertama, orang-orang yang beriman dan bertakwa akan mendapat perhiasan Allah, kebaikan-kebaikan rezeki, berkah dari langit dan bumi (QS. Al-A’raf: 32 dan 96). Dan yang bertakwa kepada Allah akan diberi jalan keluar dari kesempitan (QS. At-Thalaq: 2), dimudahkan urusannya (QS. At-Thalaq: 4), dan dilipatkan pahala baginya (QS. At-Thalaq: 5).

Kedua, orang-orang yang berdoa mohon kebaikan di dunia dan akhirat, akan mendapat bahagia dari apa yang mereka usahakan (QS. Al-Baqarah: 202).

Ketiga, orang yang beramal shaleh dan beriman akan dijadikan kehidupan dunianya baik (QS. An-Nahl: 97).

Keempat, orang yang merawat anak-anak yatim dan mempergauli mereka dengan sebaik-baiknya (QS. Al-Baqarah: 220).

Kelima, para nabi dan rasul yang menjadi orang pilihan dan terkemuka di dunia (QS. Al-Baqarah: 130, Ali Imron: 45, Al-Ankabut: 27).

Keenam, orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang mengeluarkan zakat dan beriman kepada ayat-ayat Allah SWT, akan mendapatkan rahmat di dunia dan di akhirat (QS. Al-A’raf: 156, An-Nahl: 30).

Ketujuh, Nabi Ibrahim yang dipilih menjadi imam yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah SWT lagi lurus dan hanif, selalu bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, ia pun dipilih oleh Allah SWT dan diberi petunjuk ke jalan yang lurus dan diberi kebaikan di dunia (QS. An-Nahl: 120-122).

Kedelapan, orang-orang yang hijrah di jalan Allah SWT setelah dianiaya di negeri mereka (QS. An-Nahl: 41).

Kesembilan, pahala di dunia dan di akhirat diberikan kepada Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub dan keturunan nabi-nabi (QS. Al-Ankabut: 27).

Sembilan kelompok orang yang mendapatkan berkah, kebaikan, rahmat, rezeki, kemuliaan, dan kejayaan di dunia itu menunjukkan, bahwa tidak seluruh apa yang ada di dunia ini adalah najis, haram, dan menghancurkan atau merupakan adzab bagi kita.

Tetapi Al Qur’an berulangkali mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh gebyar dunia (QS. Luqman: 33, Al-Jatsiyah: 35, Al-Hadid: 20, Fathir : 5, Al-An’am: 70 dan 130, Al-A’raf: 51).

Di samping itu, Al Qur’an juga menganjurkan kita untuk bekerja guna mencari rezeki halal. Seperti dalam beberapa hadis Rasulullah SAW, “Carilah rezeki meskipun di tempat-tempat terpencil di bumi ini” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda beliau yang lain, “Allah mencintai orang mukmin yang bekerja” (HR. Thabrani dan Baihaqi). Ada pula sabda lain, “Allah mencintai orang kaya yang bertakwa” (HR. Thabrani dan Baihaqi).
(",)v




Sumber : republika.co.id
Oleh : KH. Muhammad Dawam Saleh
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Read more: http://siradel.blogspot.com/2014/01/9-manusia-yang-mendapat-pertolongan.html#ixzz4VMxjcqrD

Kehidupan Akhirat (Renungan)

Kehidupan Akhirat (Renungan)



Sayap-Sayap Kehidupan siradel.blogspot.com

Kehidupan di dunia ini sebenarnya adalah kehidupan menuju akhirat. Ia adalah jembatan yang mesti dilalui oleh setiap manusia sebelum menempuh alam akhirat. Bahasa sederhananya, kehidupan dunia adalah medan persediaan dan persiapan untuk menuju kehidupan akhirat yang kekal sepanjang zaman. Ar-Raghib mengatakan, Kekal adalah terbebasnya sesuatu dari segala macam kerusakan dan tetap dalam keadaan semula.”

Kehidupan dunia ini merupakan jembatan penyeberangan, bukan tujuan akhir dari sebuah kehidupan, melainkan sebagai sarana menuju kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan akhirat. Karena itu, Al Qur'an menamainya dengan beberapa istilah yang menunjukkan hakikat kehidupan yang sebenarnya.

Pertama, al-hayawan (kehidupan yang sebenarnya). Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui.” (QS. al-Ankabut (29) : 64)

Kedua, dar al-qarar (tempat yang kekal). Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara), dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir (40) : 39)

Ketiga, dar al-jaza’ (tempat pembalasan). Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah lah yang benar lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (QS. an-Nur (24) : 25)

Keempat, dar al-muttaqin (tempat yang terbaik bagi orang yang bertakwa). Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘(Allah telah menurunkan) kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (QS. an-Nahl (16) : 30).

Dengan demikian, setelah manusia mengetahui akan hakikat kehidupan yang sebenarnya, mereka akan memberikan perhatian yang lebih besar pada kehidupan akhirat yang kekal daripada kehidupan dunia yang fana ini. Sebab, Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang.” (QS. ad-Dhuha (93) : 4)

Oleh karena itu, Sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu. Mereka mengatakan: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci, dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah (2) : 25). Wallahu a’lam.
(",)v




Sumber : republika.co.id
Oleh : Imam Nur Suharno
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Read more: http://siradel.blogspot.com/2016/02/kehidupan-akhirat-renungan.html#ixzz4VMx49VEY